PROFIL BUMR PANGAN

Visi Misi

Visi

“ Kesejahteraan Petani dan Kedaulatan Pangan menuju Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia tahun 2020”

Misi

  • Transformasi petani menjadi pengusaha pertanian
  • Penguasaan stock fisik bahan pangan
  • Perubahan mindset berwawasan ekologis

Sejarah


-

Tahun 1994



Dibentuk Kelompok Tani “Sirung Wangi” dengan kegiatan utama mengembangkan budidaya pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
-

Tahun 1999



Dibentuk badan usaha “PB. Tunggal Jaya” sebagai penyedia sarana produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan saprotan.
-

Tahun 2007



Dibentuk Gapoktan SAPA (Sentra Pelayanan Agribisnis) sebagai wadah untuk mengembangkan pertanian dengan sekala yang lebih besar, sekaligus sebagai wadah dalam pengembangan sumberdaya manusia (petani anggota)
-

Tahun 2008



Diresmikan Baitul Mall Wattamwil (BMT) Rohmah, sebagai lembaga keangan simpan pinjam untuk memudahkan petani dalam melakukan kegiatan budidaya pertanian yang secara ekonomi kekurangan modal.
-

Tahun 2009



Terjadi perubahan anggaran dasar dari BMT Rohmah menjadi Koperasi Ar Rohmah
-

Tahun 2010



Dilakukan perubahan tahap Anggara Dasar Koperasi Ar Rohmah menjadi Koperasi Sapa Indonesia Prioritas (SIP) sebagai lembaga keuangan (LKM) sekaligus pembentukan Perseroan Terbatas (PT) “Sapa Berkah Persada” oleh Notaris Bertha Lauwalata, S.H dengan ruang lingkup kerja: Agribisnis, Pengembang Softwere, Jasa Pelatihan
-

Tahun 2012



Dibentuk rancangan system pertanian secara holistic dan berbasis IT
-

Tahun 2013



Dibentuk badan usaha PT. Sapa Biotek Agrinusa dengan Notaris Rudiana. S.H.SP.I yang fokus dalam pengembangan dan research mengenai benih padi, pengendalian penyakit dan pengembangan pupuk organik dan pestisida nabati.
-

Tahun 2014



Bekerjasama dengan “Best Foundation”, Pembentukan Perseroan Terbatas (PT) “SMAS” (Sri Mulya Agro sejahtera) yang membidangi prosesing. Pembentukan SAPA GROUP sebagai wadah untuk menyatukan visi dan tujuan semua stakeholder yang ada. Perkembangan kami ini dibentuk berdasarkan perkembangan dan kebutuhan.
-

Tahun 2016



Keberhasilan dalam pengelolaan Sentra Pelayanan Agribisnis (SAPA) dalam perjalanannya mengalami penguatan menjadi Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) sebagai kekuatan ekonomi baru yang bersifat inklusif. Dibentuk badan usaha PT. BUMR Pangan Terhubung tertanggal 16 Agustus 2016 dengan Notaris Rusdiana. S.H.SP.I yang fokus pengembangan dibidang pangan. Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) adalah solusi terhadap kelemahan struktural koperasi, usaha kecil dan mikro untuk menjadi lembaga pelaku ekonomi yang memiliki posisi yang sejajar dengan badan-badan usaha lain sesuai dengan strategi pemberdayaan ekonomi Pancasila.

Profil Singkat BUMR

 

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, namun kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan ekonomi dan pendidikan masih mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehadiran negara untuk menciptakan kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh rakyat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia masih belum juga terwujud. Peranan pemerintah dan pelaku ekonomi sangat menentukan terwujudnya cita-cita negara untuk menciptakan masyarakat yang makmur secara berkeadilan dan berkesinambungan. Pemerintah dengan kekuasaannya dapat mengatur, mengawasi, dan memberi insentif agar pelaku eknomi dapat berperan secara optimal untuk kepentingannya sendiri tanpa mengabaikan tanggung jawabnya kepada pemerintah dan masyarakat.

Harus diapresiasi bahwa pelaku ekonomilah yang menciptakan kekayaan sebuah negara melalui proses produksi, distribusi, perdagangan yang selain mempekerjakan tenaga kerja, juga membayar pajak langsung maupn tak langsung. Pelaku ekonomi, melalui perilaku entrepreneurial-nya menciptakan  nilai tambah ekonomi atau economic value added yang menjadi sumber kekayaan sebuah negara-bangsa. Bottom line, ”business entrepreneurs create wealth for the nation”.

Pembangunan di berbagai negara berkembang dalam rangka mengentaskan kemiskinan yang bertumpu pada pendekatan pertumbuhan ekonomi terbukti malah memperbesar terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial, bahkan kesenjangan antar wilayah. Dalam kasus yang terjadi di Indonesia, pertumbuhan ekonomi diindikasikan terkonsentrasi pada tiga pelaku utama ekonomi bangsa ini, yakni badan usaha milik asing (multinational corporation), badan usaha milik swasta (konglomerat), dan badan usaha milik negara (BUMN). Tatanan dan kebijakan yang demikian menghasilkan sebuah pertumbuhan yang hanya dinikmati secara khusus oleh golongan pelaku usaha tertentu atau yang sering disebut dengan ekonomi eksklusif.

Secara umum Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) yang di gagas oleh bapak Tanri Abeng, merupakan  sebuah konsep korporatisasi koperasi dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).  Korporatisasi koperasi dan UMKM menjadi Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) adalah solusi terhadap kelemahan struktural koperasi, usaha kecil dan mikro untuk menjadi lembaga pelaku ekonomi yang memiliki posisi yang sejajar dengan badan-badan usaha lain sesuai dengan strategi pemberdayaan ekonomi Pancasila. Pembentukan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) merupakan jawaban dan sekaligus implementasi nyata dari Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, karena diharapkan dapat mewujudkan: (1) Pertumbuhan, (2) Pengentasan Kemiskinan, (3) Penciptaan Lapangan Kerja, (4) Pemerataan dan Kesejajaran, (5) Stabilitas Ketahanan Pangan dan Energi, (6) Peningkatan Daya Saing,  (7) Stabilisasi Harga dan Pengendalian Inflasi, (8) Penguatan Nilai Rupiah  dan Peningkatan Devisa dan (9) Mengatasi Kesenjangan, Urbanisasi, dan Insecurity. UMKM dengan jumlah yang diperkirakan mencapai lebih dari 56,5 juta unit usaha memiliki potensi yang sangat luar biasa  dalam memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian nasional. Akan tetapi keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terlalu kecil untuk bisa menembus pasar,  apalagi memperoleh sumber pendanaan. Karenanya, perlu dilakukan pengorganisasian terhadap pelaku UMKM sesuai komoditasnya. Selama ini, UMKM yang ada di Indonesia masih dianggap tidak layak untuk go public dan tidak bankable

Pembentukan BUMR di seluruh pelosok tanah air (5 prototipe dan 65 klaster), diharapkan dapat  mengurangi  kelemahan UMKM, sekaligus mengatasi masalah bangsa, terutama kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, dan kesenjangan pendidikan. Dengan demikian pembentukan BUMR merupakan realisasi dari sebuah konsep yang dianggap sangat tepat. Dalam konsep ini pemerintah harus bisa memberikan sumber pendanaan kepada rakyat kecil seperti petani, nelayan, pengrajin dan lainnya. Upaya tersebut juga membutuhkan sinergi yang baik, antara pemerintah, dunia usaha, dan  dunia pendidikan. Di sisi lain, pemerintah diharapkan dapat memperbaiki struktur  rantai pasok  (supply chain) berbagai komoditas pertanian strategis yang ada untuk memperkuat kemandirian ekonomi petani dan ketahanan pangan.  Rantai pasok beras misalnya, perlu lebih efisien dengan membentuk struktur pasar baru dari tingkat petani dan  berbasis klaster BUMR pangan di tingkat kabupaten yang selama ini menjadi sentra-sentra produksi pangan. Rantai pasok diharapkan meliputi tahap pra produksi, produksi, pasca produksi, transportasi, dan distribusi.

BUMR sebagai korporasi hanya dapat tumbuh dan berkembang kalau dapat beradaptasi terhadap hukum bisnis yang fundamental. Business starts from market, alias tidak ada pasar tidak ada bisnis. Oleh karena itu, maka pendekatan Model BUMR diawali dengan pengelolaan pasar baik nasional maupun internasional ataupun perdagangan sebagai usaha besar mengelola pasar yang dinamis. Industri dan atau usaha perdagangan besarlah yang menentukan jumlah dan kualitas dari supply bahan baku yang bersumber dari produsen (kelompok tani, nelayan, pengrajin, dan lain-lain), yang dikoordinasikan dalam struktur dan sistem manajemen BUMR.

Model ini melahirkan mutual benefits antara Industry & Trade dengan BUMR yang mewakili UMKM karena,

  • Industri mendapat jaminan supply bahan baku sesuai jumlah dan kualitas yang dibutuhkan;
  • BUMR mendapat jaminan pasar dengan harga yang terjadi secara fair sesuai dengan perkembangan pasar;
  • Industry/Trade dan BUMR bersinergi untuk menciptakan nilai tambah melalui tingkat efisiensi dan produktivitas yang tinggi, sebagai basis daya saing nasional.

Praktek monopolistik dari industri sebagai pembeli tunggal dari ratusan bahkan ribuan usaha mikro dan kecil berakhir dengan hadirnya BUMR yang memiliki daya tawar terhadap industri/pedagang besar. Dengan demikian, monopoli berhadapan dengan monopsoni yang secara logika bisnis akan melahirkan harga yang saling menguntungkan melalui musyawarah untuk mufakat. Disinilah kembali konsep usaha bersama dengan asas kekeluargaan sesuai semangat demokrasi ekonomi ala Pancasila.

BUMR yang saham-sahamnya dimiliki oleh kelompok produsen kecil (berbentuk koperasi) memiliki karakteristik korporasi modern dengan posisi dan struktur manajemen yang modern pula. Intinya:

  • Economy of scale – produksi dan supply dari kelompok-kelompok usaha kecil (tani, nelayan) tergabung dalam supply chain yang secara ekonomi memiliki skala yang memenuhi kebutuhan industri. Melalui efisiensi, unit cost dapat ditekan untuk keuntungan kelompok usaha kecil;
  • Marketing & Quality Assurance - Kunci daripada penerimaan pasar secara berkesinambungan adalah jaminan mutu atau kualitas yang ditentukan oleh pasar atau pembeli, dalam hal ini industri atau pedagang besar. Bantuan dan pengawasan mutu dari industri akan menjamin pembentukan harga yang cukup atau lebih baik secara signifikan. Demikian juga peningkatan produktivitas melalui proses pembelajaran atau learning curve akan tercipta. Kombinasi dari peningkatan harga dan produktivitas dapat meningkatkan pendapatan usaha kecil, petani misalnya dengan sangat signifikan. Belum lagi kemungkinan ekspansi lahan dari petani yang ada serta pelaku ekonomi baru yang lahir dari keberadaan BUMR.
  • Financing and Insurance–Ini adalah kunci utama keberhasilan pengembangan UMKM. Secara individual, hampir tidak mungkin usaha-usaha kecil/mikro ini mendapatkan sumber pendanaan yang layak. Tidak bankable, dan tidak punya akses ke lembaga-lembaga yang juga beragam sumbernya. Pilihannya adalah mengakses atau diakses oleh pengijon yang tidak saja berbiaya sangat tinggi, tetapi juga mengikat mereka untuk menjual pada harga yang ditentukan oleh pendana ini. Kombinasi dari produktivitas rendah, mutu yang tidak sesuai spesifikasi pasar serta kontrol “pengijon” menjadikan usaha-usaha mikro, khususnya, di sektor pertanian tetap bercokol di bottom of the pyramid.  Dibutuhkan Lembaga Pembiayaan Usaha Rakyat (LPUR) yang khusus dan fokus membiayai UMKM melalui setting korporasi BUMR.
  • Procurement & Logistic – Untuk memproduksi secara berskala ekonomi dibutuhkan alat-alat produksi dan bahan baku (bibit, pupuk), dan BUMR dapat memperoleh harga dan mutu yang terbaik. Melalui penyediaan logistik yang efisien (gudang, alat transportasi), kebutuhan untuk produksi dapat dilaksanakan dengan ketepatan waktu yang krusial untuk produksi tanaman yang berpola musiman.
  • Management & Capacity Building – Sustainabilitas dan kredibilitas BUMR terhadap stakeholder-nya (shareholder, industry, customer, financial source, government, and public) ditentukan oleh kompetensi manajemennya. Oleh karena itu skill dan sistem manajemen haruslah profesional dari ukuran manapun. Manajemen BUMR haruslah dibangun sejajar dengan sistem dan kapasitas manajemen usaha-usaha besar. Oleh karenanya, capacity building harus berfungsi dengan efektif, mengingat tenaga-tenaga manajemen terampil yang ada di daerah, dimana BUMR kebanyakan berdomisili.
  • Processing & Information Technology– Jumlah pelaku ekonomi mikro yang kemudian tergabung dalam kelompok usaha (cooperatives) pada akhirnya haruslah terakses dan terkoneksi dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) yang tepat. Dengan demikian pendataan dan transaksi jual beli dapat dilaksanakan dengan cepat dan akurat.

 

Melalui Sentra Pelayan Agribisnis (SAPA) Konsep BUMR ini telah di implentasikan oleh Bapak Luwarso dengan Konsep “Industri Pertanian Terpadu” (IPT) Diawali dari  pembentukan kelompok tani “ Sirung Wangi” pada tahun 1997 yang memiliki kegiatan utama mengembangkan budidaya pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan,  lalu tumbuh dan berkembang hingga dibentuk badan usaha “PB. Tunggal Jaya” pada tahun 1999 sebagai wadah penyedia sarana dan prasarana produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pertanian. Keberhasilan dalam pengelolaan, akhirnya pada tahun 2007 dibentuk gapoktan Sentra Pelayanan Agribisnis (SAPA) sebagai wadah untuk mengembangkan pertanian dengan skala yang lebih besar, sekaligus sebagai wadah dalam pengembangan sumberdaya manusia (petani anggota) lalu bergabung dengan Bapak Tanri Abeng untuk melaksanakan program Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) sebagai kekuatan ekonomi baru yang bersifat inklusif.

Fasilitas Laboratorium Lapangan (BUMR Center of Excellent) sebagai pusat dibidang Pelatihan, Penelitian dan Diseminasi Teknologi, Pengelolaan Pangan Strategis dan Pengembangan Data dan Informasi Pertanian berlokasi di Kabupaten Sukabumi. Pembangunan sarana/prasarana di Laboratorium Lapangan (BUMR Center of Excellent) selain diarahkan untuk mendukung peran sebagai pusat keunggulan juga menjadi contoh dalam pengembangan sistem dan usaha agribisnis berskala ekonomi, efektip dan efisien, bermutu dan aman serta memenuhi kaidah-kaidah pembangunan pertanian yang lestari dan berkelanjutan. Sesuai dengan peta jalan (road map) yang telah disusun maka pada tahap berikutnya akan direplikasi 5 (lima) prototipe BUMR pangan diberbagai daerah sentra pengembangan pangan stretegis di Pulau Jawa (Kabupaten Sukabumi, Demak, Banyumas dan Wonogiri) dan Pulau Sumatera (Lampung) sampai menyeluruh disemua daerah yang telah ditetapkan di Indonesia. Pada tahap awal akan difasilitasi penumbuhan prototipe pertanian seluas 1000 Ha hingga pada akhirnya mencapai klaster seluas 5000 Ha. Pendirian BUMR yang berbasiskan sektor pertanian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada ketersediaan/pasokan beras sebanyak 2.000.000 ton setiap tahunnya, diluar pangan strategis lainnya baik sebagai sumber karbohidrat maupun protein nabati dan hewani serta peningkatan dan pemerataan kesejahteraan petani melalui perbaikan NTP dan gini rasio hingga mencapai angka 0,3.

Teknologi informasi mempunyai peranan penting dalam terimplementasinya transaksi informasi yang dapat dilakukan dengan perangkat telepon seluler yang memiliki tingkat mobilitas tinggi, multi-fungsi, jangkauan seluler yang luas, pengoperasionalan yang mudah, dan adanya fungsi deteksi koordinat melalui satelit. Guna mendukung perkembangan BUMR di seluruh Indonesia. Kemampuan akan teknologi informasi dapat dipadukan dengan kebutuhan pemantauan suatu kegiatan melalui aplikasi iPangan. Aplikasi iPangan merupakan aplikasi yang dilengkapi layanan berbasis lokasi (location-based service). Melalui aplikasi ini pengguna dapat memantau, memberikan informasi baik teks maupun foto, dan juga sebagai data input melalui ponsel yang langsung terkirim ke pusat data di Indonesia. Pengiriman informasi mencakup lokasi dan waktu pengiriman informasi yang ditampilkan pada peta digital.

Melalui teknologi iPangan yang dimiliki oleh PT. BUMR Pangan Terhubung, akan dapat meningkatkan produktivitas dan membuka peluang modal bercocok tanam bagi petani. Beberapa fitur yang dimiliki oleh iPangan antara lain:

  • Smart Farming, sebuah sistem pemandu kegiatan bertani seperti penjadwalan penanaman benih, pemberian pupuk, penggunaan obat, sampai kegiatan panen. Hal itu bisa diperoleh dengan bantuan drone dan remote sensing yang secara berkala memindai area lahan untuk nantinya dapat memberi rekomendasi bagi para pendamping petani maupun memberikan update perkembangan kegiatan pertanian kepada penyalur permodalan.
  • Stock Management and Tracking, sebuah sistem informasi terintegrasi untuk supply chain komoditas pertanian yang dirancang untuk menghubungkan dan memantau seluruh kegiatan pertanian. Pengguna aplikasi akan dapat memantau stok, progress pertanian yang berlangsung, sampai dengan prediksi stok dan harga untuk 3 bulan kedepan.
  • Microfinance Management, sebuah sistem untuk membantu lembaga keuangan dalam menentukan jumlah pembiayaan yang tepat untuk setiap petani. Lembaga keuangan juga dapat memantau progress dari para petani serta mendapatkan analisa resiko yang dihadapinya.

Penumbuhan dan pengembangan prototipe BUMR pangan di masing-masing daerah sangat tergantung pada potensi dan dukungan dari pemerintah setempat. Untuk prototipe BUMR pangan di Kabupaten Banyumas misalnya, selain mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah juga telah dijalin kerjasama dengan UNSOED yang memiliki sarana/prasarana, tenaga kependidikan/dosen dan inovasi teknologi untuk melakukan pengkajian, pengembangan SDM pengelola, produksi bahan pangan strategis dan pendirian pabrik pengolahan padi modern. Pada akhirnya kunci keberhasilan dari semua penumbuhan dan pengembangan prototipe BUMR pangan sebagai klaster pertanian di masing-masing daerah adalah terletak pada kemampuan dalam melakukan rekayasa teknis, ekonomi, sosial dan budaya. Pada tingkatan diatasnya diperlukan dukungan dalam penyediaan regulasi, kebijakan, pendanaan  dan penguatan koordinasi dengan para pihak terkait.