Artikel

PTT Padi Sawah (Pengelolaan Tanaman Terpadu)

jobline-blog (8)
admin

Penglolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah uatu pendekatan inovatif dan didamis dalam uoaya meningkaykan produksi dan pendapatan petani melalui peraktikan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani.
Prinsip Utama Penerapan PTT
1. Partisipatif

Petani Berperan aktif dalam pemilihan dan pengujian teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, serta meningkatkan kemampuan melalui proses pembelajaran dan laboratorium lapangan.
2. Spesifik Lokasi
Memperhatikan keseuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial-budaya, dan ekoomi petani setempat.
3. Terpadu
Sumberdaya tanaman, tanah, dan air dikelola dengan baik secara terpadu
4. Sinergis atau Serasi
Pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antar komponen teknologi yang saling mendukung.
5. Dinamis
Penerapan teknologi selalu disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan IPTEK serta kondisi sosial ekonimi setempat.
 

Pemahaman Masalah dan Peluang
Penerapan PTT padi sawah diawali dengan pemahman terhadap maslaah dan peluang (PMP) pengembangan sumber daya kondisi lingkungan setempat dengan tujuan:

  • Mengumpulkan informasi dan menganalisis masalah, kendala dan peluang usahatani padi.
  • Mengembangkan peluang dalam upaya peningkatan produksi padi.
  • Mengidentifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani di wilayah setempat.

Tahapan Pelaksanaan
Tahanpan pelaksanaan mencakup dua kegiatan utama, yaitu:
1. Penentuan prioritas masalah secara bersama oleh anggota kelompok petani dikumpulkan, dikelompokan, dan dicarikan alternatif pemecahaannya oleh smua peserta PMP.
2. Analisi Kebutuhan dan peluang introduksi teknologi atas dasar permasalahan tersebut.

Komponen Teknologi
Komponen Teknologi yang diterapkan dalam PTT dikelompokan ke dalam teknologi dasar dan pilihan. Komponen teknologi dasar sangat diajukan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Pengerapan komponen pilihan disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat.
Dasar

  1. Varietas unggul baru, inbrida atau hibrida
  2. Benih bermutu dan berlabel
  3. Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos atauu pupuk kandang.
  4. Pengaturan populasi tanaman secara optimal
  5. Pemupkan berdasatkan kebutuhan tanamandan status hara tanah.
  6. Pengendalian OPT (organisme penggangu tanaman) dengan pendekatan PHT (pengendalian hama terpadu)

Pilihan

  1. Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam.
  2. Penggunaan bibit muda (<21 hari).
  3. Tanam bibit 1-3 batang per rumpun.
  4. Pengairan secara efektif dan episin.
  5. Penyiangan dengan landak atau gasrok.
  6. Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.

Komponen Teknologi Dasar
1. Varietas unggul baru
Varietas unggul baru (VUB) umumnya berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama penyakit utama atau toleran deraan lingkungan setempat dan dapat juga memiliki sifat khusus tertentu. VUB dapat berupa padi inbrida seperti cuiherang dan mekongga atau padi hibrida seperti roken, hipa 3 bernas super dan intani.

  • Pemilihan varietas inbrida atau hibrida disesuaikan dengan kondisi setempat, dan dianjurkan yang tahan hama penyakin endemik seperti wereng coklat dan tungro serta memnuhi permintaan pasar.
  • VUB yang sesuai dengan kondisi setempat diperoleh dari hasil uji varietas di lahan SL-PTT atau lahan BPP yang diamati bersama oleh penyuluh dan petani. Selain daya hasl tinggi dan ketahanan terhadap penyakit, aspek citarasa nasi dan umur panen, bentuk gabah, rendemen, dan kebeningan beras juga sering menjadi faktor penentu dalam pemilihan varietas oleh petani.
  • Hindari penanaman varietas yang sama secara terus menerus di satu lokasi untuk mengurangi serangan hama dan penyakit.

2. Benih bermutu dan berlabel 

Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian daya tumbuh yang tinggi. Pada dasarnya benih bermutu dapat diperoleh dari benih berlabel yang sudah lulus proses sertifikasi. Benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak.

  • Mutu benih padi inbrida dapat diuji dengan teknik pegapungan, dengan menggunakan larutan garam 2-3% atau larutan pupuk ZA 20-30% g/liter air. Benih yang tenggelam dipakai sedangkan yang terapung dibuang.
  • Mutu benih hibrida dapat duiji dengan uji daya kecambah.

3. Pemberian bahan organik

  • bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk orgaik yang dapat berbentuk padat atau cair.
  • Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia dan biologis tanah.  Oleh karena itu jerami perlu dikembaikan ke sawah dengan cara dibenam atau diolah menjadi kompos atau dijadikan pakan ternah yang kotorannya diproses menjadi pupuk kandang.
  • Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada permen No 02/2006, kecuali diperoduksi untuk keperluan sendiri.
  • Takaran pupuk organik dan anorganik mengacu pada permen No. 40/2007 tentang pemupukan spesifik lokasi.

Sumber : Pedoman Umum PTT Padi Sawah Kementrian Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2010