Artikel

Budidaya Padi SRI

jobline-blog (8)
admin

SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION (SRI)

 

Mengapa harus melakukan SRI

Gagasan mengembangkan SRI di dasarkan kepada beberapa hal, diantaranya :

  • Keberadaan prilaku manusia terutama petani lebih khusus petani pengelola agroekosistem padi sawah yang keseharianya berhubungan langsung dengan lahan sawah.
  • Sebagai proses pembelajaran yang lebih mengarahkan  pengaruh air yang berlebihan / mengggenang kondisi sawah dalam jangka waktu yang lebih lama dan kedalaman yang tinggi terhadap beberapa unsur ekosistem (sifat tanah, aliran energi dan siklus nutrisi)
  • Sebagai bahan evaluasi hubungan timbal balik antara manusia  dengan alam khususnya komponen tanah, bahwa tanah telah banyak memberikan segalanya untuk kehidupan manusia, tapi sebaliknya apa yang yang telah manusia berikan untuk memperhatikan tanah baik kelestarian , kualitas bahkan pengelolaan yang lebih baik terhadap komponen unsur ekosistem tersebut. 
  • Sebagai bahan kajian tentang pengaruh hasil pengelolaan tanah terhadap akar tanaman padi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas, malai, bulir dan kebernasannya.

 

Apa Akibat Penggenangan Air Pada Lahan Ekosistem Padi Sawah ?

            Sebagai suatu sistem yang hidup tanah mempunyai fungsi dan peranan dalam mendukung tumbuhnya tanaman, komponen dalam tanah seperti Mikro Organisme (MO), cacing, serangga atau binatang lain seperti plankton, chiro adalah identik dengan karyawan petani yang berada di dalam tanah, karena komponen tersebut bekerja setiap saat sepanjang masa selama lahan tersebut difungsikan sebagai sawah, mereka bekerja menggemburkan dan menyuburkan tanah dengan kata lain memperbaiki struktur tanah, mereka bekerja sekaligus membuat agar tanah tersebut mampu menahan air, dan mereka pun berusaha membuat bahan-bahan mentah menjadi nutrisi yang siap dimakan tanaman khususnya padi.

Namun demikian bila terjadi penggenangan pada lahan tersebut apa yang akan terjadi dengan kehidupan serta dengan fungsi dan peranan karyawan-karyawan tersebut? dan Apa yang akan terjadi pula dengan keberadaan mereka di bumi atau di habitatnya ?

            Penggenangan khususnya pada tanaman padi berakibat rusaknya dan hancurnya bahkan matinya jaringan kompleks (cortek, xylem dam phloem) pada akar tanaman padi, hal ini akan berpengaruh kepada aktivitas akar dalam mengambil nutrisi di dalam tanah lebih sedikit  dengan bantuan jaringan sederhana sebagai jaringan cadangan yakni jaringan Aerenchyma” sebagai pengganti fungsi jaringan kompleks, namun berbeda dalam pengambilan jumlah nutrisi yang jauh lebih keci l/ sedikit, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman agak terhambat dan berakibat kepada kemampuan  kapasitas produksi yang akan lebih rendah.

 

Apa itu SRI ?

Sejalan dengan gagasan dan akibat yang telah ditimbulkan dari penggenangan air di lahan padi sawah, maka  budi daya padi SRI diartikan sebagai upaya budidaya tanaman padi yang memperhatikan semua komponen yang ada di ekosistem  (Tanah, Tanaman, Mikro Organisme dan Makro Organisma, Udara, Sinar matahari dan tentunya air) sehingga memberikan produktivitas yang tinggi/optimal/sinergis, menghindari berbagai pengaruh negative bagi kehidupan komponen tersebut atau menghindari berbagai kerusakannya dan memperkuat dukungan untuk terjadinya aliran energi dan siklus nutrisi secara alami.

 

Bagaimana Cara mengetahui, Mengerti dan Memahami  SRI ?

            SRI merupakan sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas berkelanjutan, sehubungan dengan preferensi seperti itu maka model pertanian hemat air khususnya pada tanaman padi adalah salah satu pilihan untuk dibangun dan dikembangkan, selain itu juga penggunaan air yang hemat dalam berbagai hal merupakan salah satu langkah dalam mengantisifasi kekurangan, krisis air bahkan kesulitan air. Hal ini dirasakan oleh beberapa daerah di propinsi Jawa Barat.

            Praktek pertanian yang tidak berkelanjutan menganggap tanah sebagai mesin produksi dan tidak memperlakukan tanah sebagai sistem yang hidup serta mengabaikan fungsi dan peranan bahan organik tanah. Disamping itu, upaya peningkatan produksi dan takut kehilangan hasil sekecil apapun, membuat pelaku pertanian seolah sebagai penguasa lingkungan. Tiga kondisi yang merupakan ongkos mahal yang harus dibayar sebagai akibat sistem pertanian yang dikembangkan selama           50 tahun terakhir adalah :

 

1. Kerapuhan Alam Pertanian

Kerapuhan alam pertanian ditunjukan dengan menurunnya kualitas tanah.

Tanah merupakan faktor utama dalam membentuk kondisi lingkuingan pertanian(agro ekosistem), karena tanah merupakan sumbner nutrisi yang mengalir pada semua komponen hidup, dan di dalam tanah terjadi proses perputaran kembali nutrisi tersebut. Dalam hal ini peranan Bahan Organik tanah sangat besar sebagai penyedia dan nutrisi biota.

 

2. Ketergantungan Pangan

          Ketergantungan pangan dari luar negeri yang cukup besar akan melemahkan ketahanan pangan nasional, yang gilirannya akan berakibat tidak stabilnya situasi sosial dan ekonomui yang mutlak diperlukan pembangunan ekonomi.

          Kerawanan  pangan sebenarnya tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan sesaat (saat ini saja).

 

3. Bertani yang terjajah

          Sikap dan prilaku petani dalam bercocok tanam berubah secara drastis. Ciri petani yang dekat dan akrab dengan alam sudah tidak tampak, meskipun beberapa nilai pedesaan masih mereka jalankan. Warisan ilmu titen kebiasaan membaca dan menanggapi perubahan alam serta dalam keterbatasan mampu memamfaatkan potensi alam, hanya menjadi cerita di waktu senggang. Ada tiga kondisi petani yang dapat dipakai sebagai ukuran pola bertani yang terjajah :

  1. Ketergantungan dengan pihak luar dalam bertani, mulai dari perencanaan sampai memasarkan hasil.
  2. Menjunjung tinggi nilai efektivitas (produksi tinggi meskipun dengan masukan yang tinggi pula)
  3. Target utama meningkatkan produksi untuk keuntungan dan kebanggaan sesaat, meskipun harus membayar mahal ongkos lingkungan dan sosial.

 

Apa langkah- langkah dan proses melaksanakan SRI ? 

 

Agar tujuan SRI tercapai, maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan, diantaranya :

  1. Mengetahui, mengerti dan memahami Permbelajaran Ekologi Tanah (PET), PET merupakan penguatan dari proses belajar pertanian dengan pendekatan ekologis (lingkungan) diartikan sebagai praktek-praktek usaha tani yang berusaha meningkatkan kualitas lingkungan atau tidak merugikan lingkungan dan beruisaha untuk membatasi dan menekan penggunaan masukan bahan kimia sintetis. Pertanian ekologis tidak hanya memikirkan kelestarian lingkungan saja, tetapi juga tidak memandang  peningkatan produksi yang tinggi menjadi tujuan utama berusaha tani. Nilai-nilai keberlanjutan dan pertimbangan-pertimbangan yang jauh kedepan menjadi jiwanya pertanian ekologis (Hukum pengembalian, kearifan tradisional/lokal, dan bertani yang sepandan).
  2. Mengetahui, mengerti dan memahami  masalah-masalah usaha tani padi sawah terutama yang berhubungan dengan pengaruh penggenangan air pada tanaman padi.
  3. Memahami proses dekomposisi di alam terutama yang berhubungan dengan hancurnya bahan organik secara alamiah, sehingga pemaknaan dari proses tersebut dapat menambah bangunan pikiran untuk pengembangan dalam memperkuat terjadinya proses dekomposisi di alam selain bisa mempercepat juga mempertahankan agar proses tersebut memperkuat kondisi ekosistem di lahan sawah. Hal ini erat kaitannya dengan proses biologi , dimana mikro organisme sebagi pelaku utama penghancuran bahan organik perlu mendapat dukungan agar  produktivitasnya optimal dan tetap berkelanjutan.

 

Bagaimana Menerapkan SRI di Lahan ?

Dasar pengembangan bertanam padi SRI sebagai suatu sistem produksi pertanian yang holistic dan terpadu, dengan mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat yang cukup berkualitas dan berkelanjutan, maka dengan demikian ada beberapa prinsip dasar yang perlu dilakukan diantaranya :

 

1. Tanah Sehat

Pengembalian sisa tanaman mutlak menjadi kewajiban dan penambahan bahan organik ke lahan diperlukan untuk mengganti bahan-bahan yang telah kita makan. Hal ini diperlukan untuk menjaga kestabilan tanah baik menjaga sifat– sifat tanah atau lebih mengupayakan kesehatan dan produktivitas agro ekosistem, penambahan bahan organik di luar jerami antara 5- 7 ton per Ha. Model pertanian seperti ini banyak dipandang kurang efisien atau mahal, memang benar ! kalau caranya terus membeli dari tempat yang jauh, namun untuk memecahkan permasalahan tersebut diperlukan pemikiran yang lebih arif, salah satu pikiran tersebut adalah : Mengumpulkan bahan organik dengan cara menyicil tiap hari, kalau diperlukan 5 ton bahan organik dibagi 5 bulan( satu musim tanam) berarti tiap satu bulan harus mengumpulkan 1000 kg, satu bulan 4 minggu, 1000 dibagi 4 minggu = 250 kg/minggu. Untuk pengumpulan per hari 250 kg dibagi 7 hari = 35,7 kg./ hari. Sehingga untuk luas 1 Ha sawah diperlukan pengumpulan bahan organik sebanyak 35,7 kg setiap hari, caranya di belakang /dipinggir rumah dibuatkan tempat sampah organik yang harus terpisah dengan sampah plastik , inilah unit bank Organik yang berisi tabungan bahan organik, bisa sampah dari sisa-sisa tanaman, limbah dapur, kotoran hewan, hijauan, kompos, limbah industri berupa organik dan bahan lainnya yang bisa terdekomposisi. Bila  tabungan bahan organik penuh di Bank unit, perlu mendirikan Bank organik cabang di sawah, caranya di sudut sawah sisakan 3m x 3m, akan lebih baik jika terlindung dari sinar matahari dan air hujan. Setiap satu minggu sebanyak 250 kg bahan organik bisa disetorkan ke bank cabang yang ada di sawah, hal ini dibuat kompos untuk kualitas bahan organik lebih baik, maka masalah tentang persediaan bahan organik akan terpecahkan, nilai ketergantungan terhadap pihak luar dapat dikurangi selain lingkungan bersih, sehat dan yang lebih bermanfaat adalah cara hidup yang maslahat.

             Fungsi dan peranan bahan organik selain memperbaiki sifat fisik tanah yaitu mampu mengikat air, mempertahankan air menahan air di dalam tanah, memperlancar aerasi tanah, memudahkan air meresap dari permukaan tanah dan dapat memadukan tanah dengan bahan mineral lainnya, juga mendukung kehidupan mikro dan makro organisme tanah, sehingga aliran energi/siklus nutrisi lebih mantap, sejalan dengan hal tersebut nutrisi bagi tanaman akan tersedia bagi tanaman ( Air, udara, bahan mineral, bahan organik). Sehingga tanah sehat bagi tanaman akan dapat kita ciptakan, sebagai gambaran tanah sehat dapat digambarkan bahwa bahan mineral (pasir, debu dan liat) sebesar 45 %, Air dan udara tanah masing-masing 25 %, dan kandunga bahan organik sebesar 5 %, bila tekstur liat 7 % namun bila bertekstur pasir 5 % kandungan bahan organik.

             Masukan bahan organik pada pengolahan tanah ke kedua, dimana airnya tidak mengalir pada petakan lain, bila mengalir atur agar tidak membuang bahan organik yanag ada dipetakan, biarkan tanah dalan kondisi lembab/tidak tergenang selama 7 sampai dengan 10 hari sambil menunggu pesemaian siap ditanam.

 

2. Pemilihan Benih

Benih yang akan disemaikan diharapkan tumbuh baik semua, selain dinantikan selama 4 bulan bisa menghasilkan juga tidak terlalu repot harus menyulam. Untuk lebih sesuai dengan harapan maka sebaiknya benih di uji dulu sebelum ditabur di pesemaian. Salah satu cara menguji benih : menggunakan indicator telur mentah pada larutan garam(Berat Jenis larutan lebih berat dari pada gabah/telur), sehingga pada larutan garam tersebut keadaan telur (telur ayam/bebek) dalam posisi terapung yang semula pada air tawar tenggelam dan masukan benih pada larutan garam tersebut, ambil benih yang tenggelam dan cuci dengan air tawar, selanjutnya benih siap disemai.

 

3. Kebutuhan Benih dan Menyemai Benih

Benih yang dibutuhkan dengan cara seperti ini 5 – 7 Kg dalam setiap Ha, sedangkan benih padi disemaikan pada media tanah gembur, baik tekstur maupun struktur memberi kenyaman hidup perakaran yang lebih kondusif, ada beberapa  cara untuk mendapatkan benih tersebut yaitu : bila dilakukan di sawah digunakan alas plastik guna menahan akar tidak tembus pada tanah sawah sehingga akan menyulitkan pada saat benih ditanamkan selain akan merusak bagian perakaran. Campurkan kompos jadi dengan tanah kering setebal 4 cm yang  butiran tanahnya tidak terlalu besar, komposisi masing-masing 1 : 1, bisa digunakan tanah bawah dari tempat sampah (tidak usah dicampur), bisa dilakukan dengan nampan plastik, besek (pipiti) atau media lain caranya sama, taburkan benih dengan merata tutup dengan jerami dan basahi/ siram hingga tanah lembab(tidak tergenang), benih sebelum disemai bisa direndam selama semalam untuk merangsang kecambah atau bisa langsung ditebar pada media semai., pemeliharaan hanya menjaga air jangan kering, buka jerami tutup setelah benih tumbuh kecambah, sirami pesemaian agar tetap lembab, benih ditanamkan berumur 7 hari, dihitung tumbuh dari kecambah.

 

4. Model Tanam SRI

Petakan sudah dibuat parit /saluran dibagian sekeliling pinggir, atau bila petakan besar buat parit dibagian tengah untuk mengalirnya air /tempat menggenang air, sedangkan bagian tengah air sudah terikat oleh bahan organik, tanah kondisinya akan lembab, buat caplakan/garitan ukuran jarak tanam, jarak tanam minimal 27 x 27 cm, bisa juga 30 x 30 cm atau 35 x 35 cm, tergantung maksud dan studi. Diharapkan kedalaman tanah lapisan olah berkisar antara 25 hingga 30 cm, agar kondisi perakaran jauh lebih baik dan pergerakannya lebih mantap dalam pengambilan nutrisi. Jarak tanam lebar dimaksudkan untuk memberi kesempatan pada tanaman, terutama pada pembentukan anakan, pertumbuhan akar dan jalannya sinar matahari untuk masuk lebih mantap.

             Benih ditanam Tunggal / satu tunas, dengan alasan agar tumbuh anakan lebih banyak dan tumbuh kokoh, besar dan yang paling penting menjaga dan memperkuat akar lebih lancer dalam mengambil nutrisi, selain menjaga kondisi tanah terhindar dari asam atau tidak terjadi PH rendah. Bila Tanaman padi di tanam lebih dari lima tunas akan menyebabkan tanah mudah atau merespons tanah menjadi asam, hal ini akan terjadi ketika tanaman mengambil nutrisi dari tanah, ketika bertukar dari akar keluar H plus , dimana akarnya mendominasi sekitar pertanaman sehingga nutrisi yang akan masuk /terhalang  H plus, hal ini akan berakibat asam konstan. Benih berumur 7 hari, benih muda ini diharapkan bisa tumbuh tunas lebih awal dan akan banyak tumbuh tunas primer sebagai tunas produktif, selain itu  pembentukannya akan lebih cepat. Cabut benih dari pesemaian langsung tanamkan, dari cabut ke tanam tidak lebih dari 15 menit, hal ini dilakukan untuk menjaga aktivitas proses membangun energi dan penumbuhan nutrisi di dalam tanaman agar tidak terhenti. Bulir dalam benih tetap dipertahankan. Kondisi akar  horizontal sehingga membentuk hurup L, hal ini diharapkan akar tanaman langung tumbuh  dan nutrisi pada bulir tetap efektif digunakan untuk pertumbuhan tanaman tersebut. Ketika benih ditanam membentuk hurup U atau kail akan berpengaruh pada tanaman tumbuh terhambat, akar busuk atau hancur, karena pada saat akar tumbuh harus membutuhkan energi untuk meluruskan akar yang melengkung tadi untuk lurus kepinggir seperti huru L, dalam kondisi baru tumbuh akar sulit mendapatkan nutrisi tersebut akhirnya terjadi pembusukan dan sebagian hancur akar tersebut. Benih ditanam dangkal antara 0,5 - 1 cm, hingga bagian bulir terbenam, hindari air jangan sampai menggenang, cukup basah/lembab. Sangat beralasan ketika tanaman di tanam dangkal yakni  menghindari kematian atau busuk akar , karena kalau ditanam dalam akan terjadi pembusukan akar pada ruas pertama, sehingga akan terjadi pembentukan ruas-ruas/buku-buku sebagai salah satu cara tanaman padi mempertahankan hidupnya dan ini akan berakibat lambatnya pertumbuhan anakan, selain kecil dan menghambat pertumbuhannya. Pembentukan ruas/buku pada tanaman muda yang ditanam akan menentukan jumlah anakan dan produktivitas tanaman.

 

5. Pemeliharaan Pada Tanaman Fase Vegetatif

Pemiliharaan tanaman saat fase fegetatif diarahkan kepada beberapa hal yaitu :

  • Penyulaman tanaman tanaman dilakukan bila ada gangguan serangan belalang,. Benih untuk menyulam adalah benih yang diambil dari benih cadangan yang secara sengaja ditaroh berjejer satu-satu dipinggir petakan.
  • Penyiangan/ngarambet dilakukan setelah tanaman berumur 7 sampai 10 hari, bisa menggunakan alat garok, tangan atau alat lain yang dapat membantu untuk menghilangkan/membenamkan rumput sekaligus memberi dukungan terhadap kondisi aerasi/ pertukaran dan perputaran uadara agar tetap lancar, hal ini akan memperkuat tumbuhnya perakaran lebih cepat dan sehat sehingga mendukung pertumbuhan tunas awal lebih cepat. Pelaksanaan penyiangan berikutnya dilakukan maksimal setiap 10 hari sekali atau tergantung pada lahan( cepat atau lambatnya tumbuh rumput) sebanyak 4 kali penyiangan, untuk menjaga oksigen sebagai nutrisi yang besarnya kurang lebih 30 % didapatkan oleh tanaman.
  • Penambahan cairan Mikro Organisme Lokal  (MOL) diarahkan kepada baik tanaman atau tanah akan lebih baik, hal ini dimaksudkan untuk menambah unsur yang dibutuhkan tanaman pada saat nutrisi pada tanah sangat terbatas, dilakukan pada tanaman setelah berumur 7- 10 hari, berikutnya dilakukan selang 10 hari sekali, hingga 4-6 kali aplikasi.

-        Kondisi air tetap dalam keadaan basah/ tidak menggenang, kecuali pada saat mau nyiang atau rambet sebelumnya digenangi, hanya untuk memudahkan penyiangan agar tanah berstruktur.

 

6. Pemeliharaan Pada Tanaman Fase Generatif

Tanaman menjelang umur generatif , yaitu pada anakan maksimal (umur 45- 50 hari) kondisi air dikeringkan, sehingga bagian tanah kering atau bahkan sampai kelihatan agak retak selama 10 hari. Hal ini dimaksudkan pertama : untuk menjaga tunas atau anakan tidak terus menerus tumbuh, menghindari tumbuhnya tunas tidak produktif (sekunder/tersier) kedua menjaga tanaman agar tumbuh tidak terlalu tinggi, berakibat  akan menghabiskan nutrisi, sehingga menghambat pembentukan malai dan bulir. Ke tiga menjaga dan mempertahankan agar tunas yang tumbuh dan telah kita pelihara mempunyai kemampuan untuk tumbuh malai dan bulir seluruhnnya.

Setelah sepuluh hari dikeringkan, tanah diberi air kembali, sehingga tanah dalam kondisi lembab atau basah, hal ini akan kembali  nutrisi akan mengalir dihisap akar dari  tanah dibantu oleh air  masuk kedalam  seluruh bagian tanaman. Melalui proses potosintesa dan proses metabolisme maka tanaman akan lebih cepat merespons semua nutrisi yang sebelumnya lapar. Pemberian MOL akan sangat menentukan pada fase ini

Sehingga disarankan untuk kembali ada aplikasi MOL kembali.

             Kondisi air seminggu sebelum panen, ketika terlihat bulir mulai bernas dan kuning dikeringkan, kemungkinan ini menjaga agar tidak tumbuh tunas tersier sehingga akan mengganggu pemasakan bulir.

 

7. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Padi (Hama/Penyakit)

Yang dimaksud pengendalian Organisme pengganggu tanaman padi adalah upaya mengendalikan berbagai unsur-unsur ekosistem dalam hal ini di ekosistem padi sawah.

Agar tejadi perpaduan yang saling mengisi (sinergis) untuk mendapatkan produktivitas agroekosistem, mengoptimalkan kesehatan lingkungan secara alami yang menguntungkan yang akan memberi dukungan terhadap tumbuhnya tanaman dan keberadaan keanekaragaman hayati lainya, sehingga kehidupan serangga tidak berubah statusnya/kedudukannya menjadi Hama, termasuk cara  SRI inipun dimaksudkan sebagai salah satu cara dalam upaya Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman Padi, selain yang utama sebagai salah satu cara mensikapi kekurangan dan krisis air.

             Pengendalian Organisme yang merusak dan merugikan lainnya dilakukan dengan cara jurus-jurus Pengendalian Hama Terpadu dan tentunya lebih mengutamakan pendekatan secara biologis, serta menghindari praktek-praktek pengendalian yang akan merusak dan menggoncangkan agroekosistem.

 

Penutup

 

RAPUH … itulah kata yang tepat untuk disandingkan dengan tanah dan petani sebagai ungkapan untuk menggambarkan kondisinya saat ini. Kerapuhan alam pertanian ditandai dengan semakin menurunnya kualitas tanah dan semakin meningkatnya kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tanaman.

Pada akhirnya, kepastian hasil semakin sulit didapatkan apalagi peningkatannya. Disisi lain, kerapuhan posisi petani semakin jelas nampak, seperti terlihat pada sifat ketergantungan mereka dengan fihak lain dalam pengembangan usaha taninya.

Budidaya padi SRI melalui Pembelajaran Ekologi Tanah hanyalah gagasan kecil untuk memperbaiki kesalahan di masa lampau. Akan Tetapi apalah artinya sebuah gagasan besar bila tidak pernah diwujudkan. Niat baik ini telah kami gulirkan, dan ternyata dapat menumbuhkan minat, niat dan itikad petani untuk mau belajar.